psudra2001

Just another WordPress.com site

5 Cs dalam analisis kredit yang perlu dihindarkan

leave a comment »

Selain faktor 5Cs yang harus diperhatikan analis kredit dalam menganalisis suatu permohonan kredit, terdapat 5Cs lain yang harus dihindarkan oleh analis kredit agar tidak terjebak dalam kredit bermasalah dikemudian hari.

5Cs yang wajib diikuti terdiri dari Character, Capacity, Capital, Condition dan Collateral, merupakan analisa kredit yang sudah menjadi dasar analisis para bankir sejak jaman dulu, dan menjadi salah satu dasar kriteria pemutusan suatu permohonan kredit, dengan harapan kredit yang diberikan tidak menjadi masalah dikemudian hari. Bahwa sebagian kredit ternyata kemudian menjadi bermasalah, banyak faktor yang menyebabkan hal itu dapat terjadi. Bank hendaknya belajar dari pengalaman memberikan kredit di masa lalu, dimana kredit tersebut kemudian menjadi bermasalah. Untuk mencegah kejadian ini berulang, terdapat 5C lain yang wajib dihindarkan oleh pada pemutus kredit. Kelima C yang harus dihindarkan tersebut adalah: complacency atau cepat puas, carelessness atau kelalaian, communication atau komunikasi, contingencies atau faktor kontinjen dan competition atau tekanan persaingan.

  1. Complacency

Ketika terjadi permasalahan dalam kredit, bankir sering menyesali bahwa pada saat kredit tersebut diputuskan, karena terlalu yakin, dia tidak melakukan evaluasi atas karakter nasabah secara cermat, sehingga kredit kemudian menjadi bermasalah.

Sebagai ilustrasi, seorang nasabah kredit dengan baki debet sebesar Rp 500 juta sudah menunjukan bahwa selama ini, debitur selalu melunasi semua kewajiban dengan baik. Suatu saat debitur tersebut datang pada bank untuk memohon tambahan kredit sebesar Rp 500 juta, dengan jangka waktu 90 hari.

Kebetulan pada saat ini pejabat bank yang berwenang membuat kebetulan sedang sibuk, dan mengabaikan rumor yang terdengar diluar mengenai bahwa debitur tersebut sekarang dapat hobi baru, yaitu berjudi, dan mempunyai masalah keluarga yang melanda nasabah tersebut. Akhirnya bankir tersebut menyetujui permohonan kredit debitur. Belakangan ternyata rumor yang beredar itu benar, perusahaan debitur bermasalah dan isteri dari nasabah sudah mengajukan gugatan cerai. Sebagian kredit sekitar Rp 300 juta yang sudah terlanjur ditarik tidak dapat dikembalikan nasabah.

Dalam kasus ini, pejabat bank cepat merasa puas atas kinerja nasabah selama ini, kewajiban selalu dibayar, dia malah tidak menanyakan apa sebenarnya tujuan penggunaan kredit, dan rencana sumber pelunasan.

Bank harus berupaya menghindar dari sifat cepat puas atau complacent, yang sering diekspresikan dalam pernyataan berikut: “kita tidak usah khawatir pada nasabah kita ini. Selama ini dia selalu sudah memenuhi kewajiban pada bank secara baik”.

Seringkali asumsi yang kita tetapkan dengan berjalannya waktu menjadi tidak tepat dan perlu penyesuaian. Hal lain adalah terlalu percaya pada pihak yang memberikan garansi atau jaminan. Perlu dipahami bahwa niat orang untuk memberikan jaminan pribadi dapat berubah dari waktu ke waktu.

Pada kasus diatas, ternyata terlalu mengandalkan pada kinerja historis dapat menimbulkan masalah. Keberhasilan di masa lalu tidak selalu dapat menjamin keberhasilan di masa depan. Namun fakta ini seringkali diabaikan oleh pejabat bank. Coba perhatikan pendapat  yang sering dikatakan oleh para bankir: “sudah tiga kali kredit ini diperpanjang, selalu dapat diselesaikan dengan baik, nasabah tidak pernah menunggak pembayaran bunga” atau: “tiga perjanjian kredit yang kita sudah setujui sudah dilunasi dengan baik, mengapa kita harus khawatir dengan yang satu ini?”

Terlalu mengandalkan kekayaan yang dimiliki seseorang juga dapat menimbulkan masalah, seperti kasus yang sering terjadi pada bankir sebagai berikut: “saya sangat mengenalnya, saya mengenal keluarganya, dia berasal dari keluarga kaya dan sudah menjadi nasabah kita selama bertahun-tahun, jadi tidak mungkin bermasalah”, kemudian nasabah tersebut menjadi pesakitan dalam pengadilan niaga dalam kasus kepailitan.

Masalah yang sering terjadi, bankir sering cepat lupa dari masalah yang terjadi pada masa lalu. Seringkali bankir berpikir bahwa negara ini jauh dari resesi, dan ekonomi akan tumbuh terus. Padahal sebenarnya kita sudah mengerti bahwa siklus bisnis dari ekspansi, booming dan resesi akan senantiasa berulang. Bankir harus awas terhadap “bahaya pada saat kondisi sedang baik”. Karena bahaya kondisi ekonomi menurun selalu akan tiba. Jadi, seorang bankir yang baik tidak boleh bersikap complacent atau terlalu yakin.

2.   Carelessness (kurang cermat)

Ungkapan seorang bankir yang kurang hati-hati kurang lebih sebagai berikut: “tidak usah khawatir mengenai masalah persyaratan kredit dan dokumentasi, akan saya selesaikan segera”. Sistim pencatatan yang tidak rapih, dan dokumentasi yang amburadul seringkali membawa bank dalam masalah di pengadilan apabila terjadi permasalahan pada hubungan perkreditan dikemudian hari.

Laporan keuangan perusahaan biasa diterima bank setiap triwulan atau setiap enam bulan. Bank harus meneliti laporan tersebut, karena perubahan kondisi pasar dan ekonomi dapat saja mengubah pandangan bank terhadap debitur. Bank harus peduli apa yang terjadi sejak laporan keuangan terakhir diterima bank. Bank harus menempatkan setiap perpanjangan kredit sebagai kredit yang baru, sehingga selalu update dan sesuai dengan kondisi ekonomi dan kondisi nasabah terakhir.

Banyak ditemukan kasus dimana terdapat pinjaman dengan dokumentasi yang tidak lengkap, laporan keuangan tidak teratur disampaikan sesuai dengan yang dipersyaratkan dalam perjanjian kredit, syarat kredit tidak dipenuhi, dan sulit mencari informasi tentang nasabah karena pejabat yang mengurus kredit tersebut sekarang sudah pindah kerja ke bank lain. Hal tersebut dapat terjadi karena bankir lalai melakukan tugas dengan baik.

Dokumentasi tidak lengkap

Untuk beberapa jenis agunan perlu dilakukan pengikatan. “ jangan khawatir, akan saya kerjakan minggu depan” kata seorang pejabat kredit. Ternyata pada dalam waktu seminggu, bank lain sudah melakukan pengikatan terhadap agunan tersebut, dan akhirnya bank hanya memperoleh pengikatan kedua.

Informasi keuangan tidak lengkap

Laporan keuangan yang diterima bukan yang terkini, dan penilaian agunan belum dilakukan. Sebelum bank mengetahui kondisi sebenarnya, nasabah yang merupakan developer besar sudah dalam posisi modal negatif, dan nilai agunan sudah turun lebih dari 50% dari nilai awal. Seringkali hal ini terjadi karena bank lalai meneliti laporan keuangan sejak lama.

Tidak menetapkan syarat untuk melindungi kepentingan bank

Bankir sering kurang hati-hati menggunakan kata-kata dalam perjanjian kredit misalkan agar debitur memelihara tingkat modal minimum tertentu. Ketika bank menerima update laporan keuangan, ternyata perusahaan sudah menjadi insolvent, karena tahun lalu bonus besar dibagikan padahal perusahaan sedang mengalami kerugian usaha.

Informasi tidak dipelihara dalam arsip secara baik

Seringkali bankir tidak melakukan proses dokumentasi atas pembicaraan via tilpon atau pembicaraan secara lisan. Baru setelah debitur tersebut menjadi perkara dipengadilan, bank repot merekonstruksi apa yang sudah dibicarakan dua tahun yang lalu untuk mengupayakan penyelamatan kredit. Atau lebih parah lagi, bank yang dituntut ke pengadilan karena sesuatu yang seharusnya merupakan janji debitur untuk melaksanakannya.

3.   Communication (komunikasi)

Komunikasi yang baik sangat penting dan dapat menghidarkan dari segala macam kejutan atau surprise dari kredit bermasalah.

Komunikasi formal dalam proses perkreditan melalui memo, akan membantu agar kita yakin apa yang diusulkan, dan semua pihak yang terlibat memiliki pemahaman yang sama. Komunikasi juga diperlukan pada proses review kredit, yaitu dengan meneliti kembali dokumentasi, pembayaran bunga dan pokok dsb. Komunikasi yang baik akan memberikan informasi lengkap, tidak terlalu tergantung pada officer kredit yang menangani kredit tersebut.

Kegagalan komunikasi mungkin dapat dilihat sebagai satu hal yang sederhana, namun dapat menyebabkan bank mengalami kerugian. Pejabat kredit dapat saja mengatakan: “kami tidak mengetahui bahwa kami tidak diperbolehkan memberikan kredit jenis tersebut, tidak ada yang memberitahukan sebelumnya pada kami”. Pimpinan unit kerja dapat saja mengatakan: “kami tidak mengetahui terdapat permasalahan kredit pada cabang, karena cabang tidak pernah memberikan laporan pada saya”. Direksi juga dapat mengatakan: “kami tidak mengetahui bahwa kami dilarang memasarkan produk tersebut, karena regulator tidak pernah memberitahukan secara resmi”. Komunikasi yang tidak berjalan baik akan mendatangkan banyak permasalahan.

Tujuan penggunaan kredit tidak jelas

Manajemen harus paham mengenai target bank atas diinginkan atas kualitas kredit. Kebijakan perkreditan harus menjelaskan kredit seperti apa yang diperbolehkan dan yang mana yang tidak diperbolehkan. Walaupun kebijakan sudah ada, masalah akan timbul apabila tidak ada yang mengindahkan kebijakan tersebut.

Sebagai contoh, kebijakan kredit mengatur bahwa kredit kepemilikan rumah (KPR) dapat diberikan dengan rasio LTV (loan to value) maksimal 70%, dimana pada kenyataannya banyak KPR yang diberikan dengan LTV 95% atau 100%.

Komunikasi keatas

Apabila officer di cabang melakukan kunjungan proyek, dia yang paling dulu akan mengetahui apabila terjadi suatu permasalahan. Namun seringkali mereka beranggapan bahwa semua orang mengetahui tentang hal tersebut, yang seringkali tidak benar. Jadi perlu melakukan komunikasi keatas.

Komunikasi yang tidak jelas dari regulator

Belakangan terdapat aturan baru dalam menentukan cadangan kredit bermasalah yang disebut dengan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN). Apabila metode perhitungan CKPN tersebut tidak dilakukan secara seragam pada seluruh perbankan, maka dapat terjadi pada beberapa bank, kenaikan CKPN yang drastis. Demikian juga ketentuan Bank Indonesia yang mengharuskan bank melaporkan perhitungan bunga kredit pada masyarakat. Bagaimana kalau masyarakat tidak memahami perhitungan lengkap dari bunga kredit, dan menuduh bank menentukan bunga yang terlalu tinggi, yang berpotensi mengganggu bisnis bank.

Oleh karena itu, komunikasi perlu dilakukan dengan baik. Komunikasi yang dilakukan secara tidak baik akan menimbulkan permasalahan dikemudian hari.

 4.   Contingencies

Apabila debitur menjalankan usaha dengan gaya “one man show”, maka apabila debitur tersebut meninggal, mungkin perusahaan asuransi mungkin dapat dijadikan andalan untuk mengatasi permasalahan. Namun apabila debitur tersebut menjadi cacat dan tidak dapat melakukan pekerjaannya, siapa yang bertanggungjawab melunasi kewajiban pada bank?

Kontijen lain yang perlu mendapatkan perhatian, misalkan (1) bank mengalihkan atau menjual suatu tagihan pada pihak lain dengan syarat recourse atau dapat dikembalikan pada bank asal. (2) Debitur menerbitkan jaminan bank, (3) Debitur melakukan bisnis yang terkonsentrasi pada suatu industri tertentu, (4) debitur menghadapi tuntutan hukum, (5) debitur tidak menutup asuransi dengan tanggungan yang seharusnya, (6) debitur kehilangan pelanggan penting dalam usahanya, (7) debitur terkena kasus pajak, masalah keamanan kerja, tuduhan menyebabkan terjadinya polusi, pemogokan buruh, kekurangan bahan baku, dan sebagainya.

Dalam perkreditan, tugas bank adalah mengambil risiko kredit dan wajib membuat keputusan yang benar sekitar 99.5% dari 100 kredit yang diberikan, jadi toleransi membuat kesalahan dalam keputusan kredit sangat kecil. Keuntungan yang diperoleh bank dengan bisnis perkreditan dapat dengan mudah lenyap oleh satu saja kegagalan kredit dengan skala besar.

Pekerjaan officer kredit adalah mempertimbangkan risiko dan menetapkan bahwa kemungkinan besar kredit dapat dilunasi debitur pada waktunya, dengan mempertimbangkan faktor kontinjen. Artinya bank melihat kemungkinan buruk yang dapat terjadi, dan menentukan berapa kemungkinan buruk itu dapat menjadi kenyataan, dan meyakini bahwa ada jalan keluar kedua atau ketiga yang tersedia bagi bank untuk mengurangi potensi kerugian.

Kurang cermat meneliti risiko kerugian

Pejabat perkreditan sering beranggapan bahwa mereka merupakan officer kredit yang terbaik, dan kurang memahami apa yang akan terjadi kalau kondisi ekonomi tiba-tiba menurun. Bahkan terhadap hal yang sebenarnya agak jelas, sebagai contoh, developer yang merencanakan membangun gedung perkantoran di daerah SCBD, sementara ruang perkantoran yang belum tersewa masih sekitar 20%.

Keinginan untuk melakukan transaksi

Pejabat kredit dapat saja mempunyai motivasi untuk melakukan transaksi atas dasar target yang ditetapkan oleh bank, bukan atas dasar peluang bagaimana kredit dilunasi debitur pada waktunya. Dengan motif ini, sering pejabat kredit malah sibuk membantu proses penarikan kredit agar debitur segera dapat memperoleh dana kredit, dan kredit sudah segera menjadi baki debet pada bank. Yang lebih parah, officer memaksakan bahwa walaupun kondisi keuangan debitur tidak terlihat baik, tapi dia dapat membantu agar permohonan kredit dapat memperoleh persetujuan.

Memberikan harga sesuai risiko yang diambil

Penetapan harga atau bunga kredit sering menjadi kesalahan yang dibuat oleh pejabat perkreditan. Kebijakan perkreditan tidak dibuat untuk mengendalikan risiko, tapi menetapkan bunga lebih tinggi untuk kredit yang dinilai lebih berisiko. Seharusnya, kalau potensi risiko tinggi, apakah terdapat peluang debitur menjadi bermasalah?

Jadi pada dasarnya, bank hendaknya tidak mengabaikan faktor kontinjen.

5.   Competition (persaingan antar bank)

Faktor persaingan dapat menyeret bank ke dalam kesulitan, apabila kebijakan bank didikte oleh kondisi persaingan. Kasus yang sering terjadi adalah tekanan dari nasabah yang memanfaatkan persaingan antar bank. Sebagai contoh, calon nasabah datang memohon kredit, dan memberitahukan bahwa kalau bank Anda merasa tidak nyaman dengan permohonan kredit ini, bank lain diseberang jalan dengan senang hati akan memberikannya. “Bank diseberang jalan itu sudah sejak lama berupaya mengadakan pendekatan pada saya, tapi saya tetap saya lebih nyaman menjadi nasabah Anda karena selama ini bank Anda memberikan bunga yang terbaik, dan memberikan pelayanan lebih baik”.

Bankir yang peduli pada best practices tetap harus melakukan evaluasi dengan cermat dan bersikap disiplin pada aturan main yang sudah ditetapkan. Negosiasi dengan nasabah dapat saja dilakukan, tapi jangan membiarkan persaingan antar bank menentukan arah kebijakan mengambil keputusan.

Membiarkan tekanan persaingan mempengaruhi judgment merupakan tanda kelemahan manajemen, dan akan mendorong nasabah meminta lebih banyak lagi. Coba lihat kembali debitur bermasalah pada bank Anda, mungkin sebagian dari mereka merupakan nasabah yang diambil dari bank lain dengan analisa yang kurang cermat.

Tentu saja bank harus berupaya memenangkan persaingan untuk bisnis yang benar-benar baik untuk bank. Bank perlu berupaya menarik nasabah yang baik dari pesaing, atau mempertahankan bisnis yang baik dengan nasabah yang sudah ada dalam portfolio bank. Tapi perlu diperhatikan, jangan sampai kondisi persaingan yang menentukan persetujuan kredit. Persetujuan kredit tetap harus berdasarkan prinsip prudensial, dengan memperhatikan kondisi persaingan. Dengan kata lain, keputusan dibuat sehingga menguntungkan bagi bank baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Mungkin saja pesaing mempunyai kebijakan yang berbeda, dan mereka lebih menginginkan bisnis yang diperebutkan, namun jangan membiarkan kondisi persaingan menentukan arah keputusan kredit, yang akhirnya dapat mengakibatkan semua bank mengalami kerugian.

Tindakan bank yang kurang pas dalam menghadapi tekanan persaingan dapat digambarkan sebagai berikut:

  • Bank memutuskan untuk tidak kehilangan nasabah. Bank pesaing memberikan bunga KPR 10%, lalu bank Anda memutuskan memberikan 9%.
  • Nasabah melakukan negosiasi dengan bank lain, misalkan bank lain bersedia memberikan LTV 90%, lalu bank Anda memutuskan melawan dan setuju memberikan LTV 100%.

Kedua contoh diatas menunjukan bahwa keputusan bank bukan atas dasar karakteristik dari kredit, melainkan semata-mata akibat tekanan persaingan.

Tindakan bank dengan motif agar memperoleh ranking tinggi dalam bisnis perbankan misalkan: Bank melihat bahwa apabila bank agresif membuat keputusan kredit, maka pada akhirnya akan membawa posisi bank menjadi nomor satu, atau nomor 3 atau nomor lima dalam hal aset produktif.

Dengan demikian bank membuat keputusan kredit tidak atas dasar apakah kredit memberikan keuntungan bagi bank, melainkan lebih melihat bagaimana agar bank dapat tumbuh dengan cepat, namun kurang melihat kondisi pasar yang dilayani oleh bank. Yang utama, memberikan lebih banyak kredit, yang dapat segera memberikan dampak pada ranking bank dalam industri.

Bukan berarti bank tidak boleh mempunyai tujuan tertentu, namun bank harus menetapkan prioritas dalam upaya mencapai tujuan tersebut. Dengan demikian dapat diputuskan, apakah bank akan mencapai tujuan pertumbuhan dengan cara apa saja, atau menetapkan hanya tumbuh melalui kredit dengan kualitas tertentu.

Pada dasarnya, bank tidak seharusnya terbawa arus oleh tekanan persaingan.

Semua yang diuraikan diatas sebenarnya tidak ada yang baru bagi para bankir. Pada umumnya semua sudah mengetahui dan sebenarnya berita diatas sudah tidak asing. Namun kesalahan demi kesalahan terus saja terjadi. Oleh karena itu bank tetap memerlukan cadangan kredit bermasalah yang sekarang disebut dengan CKPN (Cadangan Kerugian Penurunan Nilai).

 Kesimpulan:

Agar bankir sejauh mungkin terhindar dari jebakan kredit macet yang selama ini membuat hidup bankir menjadi tidak nyaman,  bankir perlu mengkombinasikan 5Cs yang harus dilakukan, dan 5Cs yang tidak boleh dilakukan. 5Cs yang wajib dilakukan terdiri dari Character, Capacity, Capital, Condition dan Collateral. 5Cs yang wajib dihindarkan adalah complacency atau cepat puas, carelessness atau kelalaian, communication atau faktor komunikasi, contingencies dan competition atau tekanan persaingan.

About these ads

Written by psudra2001

May 10, 2011 at 3:49 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: