psudra2001

Just another WordPress.com site

Perlunya bank melakukan stress testing dari kacamata regulator

leave a comment »

BARa risk forum, Bandung, April 2011

Krisis yang terjadi di negara Barat seperti Amerika dan Eropa disinyalir karena terdapat sumber risiko perbankan yang belum menjadi perhatian para bankir. Salah satunya antara lain tidak terpikirkan bahwa surat berharga yang mempunyai rating AAA menurut Moody’s dan standard and poor’s ternyata menjadi tidak likuid pada saat krisis terjadi.

Oleh karena itu bank perlu mulai memikirkan untuk lebih mempersiapkan diri agar bank dapat lebih mempunyai daya tahan (resilience) terhadap berbagai jenis shock, baik yang sudah pernah terjadi maupun untuk yang belum pernah dialami sebelumnya. Demikian disampaikan oleh Pak Wimboh Santoso, Direktur DPNP Bank Indonesia, yang memberikan pidato kunci (key note speech) dalam BARa risk forum 27-28 April 2011, yang diselenggarakan oleh BARa secara periodik, pada kesempatan ini mengambil thema: “Sustaining readiness and resilience of financial sector against future potential shocks”.

Melihat pada berbagai kejadian yang menerpa sebagian bank, yang pada ujungnya sangat mengganggu khususnya reputasi bank tersebut, disebabkan oleh kejadian yang tergolong pada risiko operasional, yaitu yang diakibatkan oleh faktor manusia (pegawai), kesalahan pada operasional dan prosedur, atau ketidakpatuhan pada prosedur dan kebijakan bank yang berlaku.
Jadi dapat disimpulkan bahwa implementasi manajemen risiko operasional bukan sesuatu yang mudah dan sederhana. Tools yang selama ini banyak digunakan pada upaya penanggulangan risiko operasional seperti RCSA (risk and control self assessment) LED (loss event database) dan KRI (key risk indicators) ternyata perlu ditinjau lagi kualitas implementasinya di lapangan. Selain itu, penggunaan tolls dipandang belum cukup, ORM sekarang lebih memerlukan pemahaman yang lebih mendalam dari pelaku yaitu pegawai bank.

Apabila pihak luar dapat membaca bahwa cara operasional bank sudah cenderung terlena, merasa sudah benar dan tidak ada kemauan untuk melakukan perbaikan, maka bank tersebut akan sangat rentan menjadi mangsa para petualang pembobol bank diluar sana. Agar hal tersebut dapat dicegah tidak terulang dikemudian hari, memang perlu kajian lebih mendalam, mungkin dalam acara BARa Risk Forum dilain kesempatan, demikian disampaikan pak Wimboh.

Apabila diamati, ternyata kondisi krisis yang menerpa industri perbankan merupakan siklus yang senantiasa berulang, tapi dengan periode waktu yang lebih panjang. Kalau kita ingat, krisis finansial di Asia pada tahun 1998, berulang pada krisis keuangan yang menerjang negara Barat 10 tahun kemudian pada tahun 2008, yang sampai sekarang masih belum kelihatan ujungnya, kapan Amerika akan bangkit. Sekarang ekonomi di Asia memang sedang boom, tapi kalau kita perhatikan beberapa negara sudah mulai meningkatkan suku bunga seperti China, Thailand dan lainnya, China bahkan sudah menaikan kebijakan GWM sampai 20% untuk meredam overheat dalam ekonominya. Bukan tidak mungkin siklus akan terulang beberapa waktu ke depan, yang kiranya perlu menjadi prioritas bagi perbankan karena risiko sistemik akan sulit untuk dilakukan mitigasi. Jadi lebih bank yang perlu mempersiapkan diri agar lebih tahan dalam menghadapi kondisi krisis ekonomi.
Soal Remunerasi Bankir
Salah satu pemicu krisis adalah perbankan di US yang terlalu mengambil banyak leverage sehingga exposure bank menjadi sangat besar. Selain itu, remunerasi pada para bankir hanya didasarkan pada accenting profit, dan tidak memperhatikan risiko yang akan muncul di masa yang akan datang. Oleh karena itu, seperti yang dilakukan para central banker di negara Barat, Bank Indonesia juga sedang mempertimbangkan mengatur pemberian remunerasi pada bankir, agar meperhitungkan risiko. Sebenarnya hal ini sudah diatur dalam PBI mengenai GCG bahwa remunerasi harus memperhitungkan risiko, dan sekarang ketentuan itu akan dibuat lebih eksplisit.

Salah satu peserta berpendapat, bahwa remunerasi berbasis risiko seperti pencapaian EVA (economic value added) adalah hal yang baik untuk kesinambungan kinerja bank, namun sebaiknya disosialisasikan oleh asosiasi perbankan, untuk mendorong perbankan menentukan remunerasi berdasarkan risiko, dan Bank Indonesia tidak perlu mengatur hal operasional seperti ini. Selain itu, memang karakteristik bisnis bank disini juga agak berbeda, karena belum masuk pada arena derivatif kredit seperti CDS, CDO, CLO dan sebagainya, yang berpotensi mendorong perilaku bankir yang berisiko.

Basel III
Pak Wimboh juga menjelaskan persoalan modal yang tidak mencukupi untuk menyerap risiko sistemik apabila hanya berdasarkan pada perhitungan menurut Basel II. Oleh karena itu, negara-negara yang tergabung dalam G20, termasuk Indonesia, sepakat untuk memberlakukan Basel III, yang akan diterapkan secara bertahap mulai tahun 2013 sampai 2019.

Basel III lebih mengatur soal (1) kualitas modal, dimana porsi modal equity (core tier 1) dipertegas menjadi minimal 4.5%. Minimal Tier 1 adalah 6% jadi bank masih dapat memperhitungkan modal hybrid tertentu sampai 1.5%, dan dapat memperhitungkan modal tier 2 sampai 2% untuk mencapai jumlah keseluruhan minimal 8% dari ATMR. Selain itu bank sekarang harus menyediakan modal equity untuk keperluan cadangan (conservation buffers) sebagai cadangan pada masa krisis, dan countercyclical buffers sebesar 0 – 2.5%, yang diperlukan apabila bank dinilai sudah melakukan ekspansi yang berlebihan. Selain itu, untuk bank yang dinilai memiliki kedudukan penting dalam risiko sistemik, yang disebut dengan SIFI (systematically important financial institution), regulator akan menetapkan tambahan modal yang belum ditentukan aturan permainannya.

Selain masalah modal, Basel III juga mengatur soal counterparty risk pada eksposur derivatif, antara lain dengan metode CVA (Credit Valuation adjustment) dan aturan perhitungan kondisi likuiditas bank. Kalau sudah diberlakukan, bank harus memenuhi ketentuan mengenai LCR (liquidity coverage ratio) dan NSF (net stable funding ratio) minimal sama dengan satu. Mengenai Basel III akan diuraikan lebih lanjut pada tulisan mendatang.

Bank Indonesia sendiri menurut pak Wimboh sudah melakukan apa yang disebut dengan QIS (quantitative impact study) yaitu melihat bagaimana dampak implementasi Basel III pada kondisi permodalan bank nasional. Disimpulkan bahwa perbankan Indonesia tidak mempunyai permasalahan, karena kecukupan modal bank sekarang ini cukup tinggi, yaitu mencapai lebih dari 15%. Namun demikian, industri perbankan perlu memikirkan apakah jumlah modal ini mencukupi untuk ekspansi kredit yang justru sedang didorong Bank Indonesia untuk mendorong pertumbuhan sektor riil, yang saat ini saja sudah mencapai sekitar 24% per tahun. Hal ini mengingat ekspansi kredit akan cepat sekali memangkas level kecukupan modal bank.

Written by psudra2001

May 10, 2011 at 3:35 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: